Ada Cinta di Bulan Ramadhan

Siang hari matahari begitu teriknya. Jalan-jalan yang semalam basah kini kering seolah hujan tak pernah ada. Begitu pula pakaian ini, baru saja aku mencucinya di irigasi sawah dengan cepat keringnya menyelimutiku.

Meski matahari begitu teriknya namun bukanlah panas yang dirasa. Padahal ini adalah tengah hari yang semestinya panas menyengat kulitku namun hangat malah membalut sekujur tubuh.

Dahaga telah pergi di bawah teriknya matahari. Meski air kini melimpah namun tak berani ku teguk walau setetes saja.

Telanjang kaki aku melangkah di atas tanah berbatu. Sepanjang jalan masih terus begitu. Meski sering diperbaiki namun tetap saja belubang kembali.

Bagaimana tidak. Mobil-mobil raksasa sering lewati jalan ini membawa batu dan pasir. Namun tidak mau menuangkan batu atau pasir untuk sekedar memperlancar hilir-mudiknya.

Bertahun-tahun aku melewati jalan ini. Begitulah adanya hingga kini. Perjalanan jauh dari rumah tetap aku lakukan demi menanam harapan pada sebidang tanah yang aku miliki.

Berangkat aku dari bada subuh dan pulang menjelang maghrib. Seperti orang-orang kota yang berangkat ke kantor. Bedanya mereka berbaju rapi berdasi dengan sepatu mengkilat dan kendaraan canggih. Harus rela mengantri macetnya perjalanan. Asalkan bisa sampai ke tempat tujuan. Jika terlambat maka akan dapatkan teguran.

Ada Cinta di Bulan Ramadhan

Sedangkan aku setiap hari dengan kendaraan seadanya melewati jalan berlubang dan berbatu. Namun sudah biasa seperti ini. Menuju ke tempat kerja dengan rasa tenang. Tidak akan ada orang yang menegur. Datang pun sesuka hati. Yang penting tanah itu terurus dan tanamannya subur dan menuai hasilnya ketika musim panen tiba.

Sampailah aku di gubuk kecil itu. Aku siapkan alas dan mengambil wudu. Ku hadapkan diri kepada robku. Aku membukanya dengan namaNya yang agung. Kemudian seusainya kucapkan salam cintaku.

Baca Juga:  Berbuka Puasa dengan yang Manis Bukan Sunnah

Masih sendiri di gubuk itu ketika matahari mulai sedikit tergelincir dari tengah siang. Aku pandangi panorama asri tanah tempat lahirku. Sungguh luas terhampar persawahan. Padi mulai menguning. Senang hati ini karena sebentar lagi usahaku akan menghasilkan. Sekian lama aku menanti masa itu. Tak pedulikan lelah menghantuiku.

Di bulan yang mulia ini aku gantungkan harapan kepada yang menciptakan langit daan bumi agar hidup ini berkah dan segala anugerah yang diberikan diberkahi-Nya.

Yuk bantu share. Semoga jadi amal jariyah dengan ikut berbagi ilmu bermanfaat ini. Aamiin.
Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Pin on Pinterest
Pinterest
Share on Tumblr
Tumblr
Share on LinkedIn
Linkedin
Rate this article!