Beda Opini, Essay, Artikel

“Apa bedanya Opini, Esai, dan Artikel?” Pertanyaan tersebut seringkali muncul dari peserta pada saat saya mengisi pelatihan menulis. Pertanyaan sederhana tapi sulit untuk menjawabnya. Hal ini disebabkan tidak ada acuan yang ajeg mengenai perbedaan masing-masing istilah tersebut. Bahkan boleh dikatakan pengertiannya tidak jauh berbeda, baik opini, esai, maupun artikel.

Tapi yang jelas, masing-masing mempunyai ciri khas atau karakteristiknya sehingga kita bisa melabelinya bahwa itu tulisan opini, esai, atau artikel. Meskipun, bisa saja antara satu pembaca dengan pembaca lain berbeda pendapat, atau bahkan antar penulisnya sendiri bisa berbeda pendapatnya.

Sebelum kita membedakan ketiga model tulisan itu, kita harus ingat bahwa ketiganya adalah termasuk karangan nonfiksi, alias ditulis berdasarkan fakta. Jadi, apapun perbedaan masing-masing dari ketiga model tulis tersebut, pada dasarnya semuanya termasuk nonfiksi. Bahkan ada yang mengatakan semua tulisan nonfiksi adalah artikel. Opini dan esai adalah sama-sama artikel. Ini hal yang mesti selalu diingat, sehingga tidak perlu memusingkan perbedaannya. Jangan sampai, lantaran kesulitan membedakannya, Anda terus tidak mau menulis.

Beda Opini, Essay, Artikel

Baiklah, sekarang kita bahas satu per satu. Sebagaimana dikatakan di muka, bahwa secara definisi tulisan Opini, Esai, dan Artikel, itu sama, yakni pandangan, pendapat, atau anggapan seseorang terhadap suatu masalah. Jadi, semuanya berdasarkan interpretasi semata.

Secara definisi tulisan Opini, Esai, dan Artikel, itu sama, yakni pandangan, pendapat, atau anggapan seseorang terhadap suatu masalah. Jadi, semuanya berdasarkan interpretasi semata.

Hanya saja ciri khas atau karakternya dapat kita bedakan. Pada umumnya karakter tulisan Opini itu lugas. Hal yang diangkatnya pun masalah aktual (yang sedang hangat dibicarakan, baik lingkup daerah, nasional, maupun internasional). Biasanya tulisannya diawali dengan peristiwa yang sedang hangat tersebut. Oleh karena aktual, tulisannya pun berciri reaktif, sehingga pengulasan dan pembahasannya tidak begitu menyeluruh, alias membahas hal yang sedang terjadi tersebut.

Baca Juga:  6 Langkah Ajaib Menyulap Blog Jadi Buku

Sedangkan esai karakternya bersifat reflektif-analitis, mengajak pembaca untuk merenung. Kalau esai di surat kabar penyajiannya kadang tidak sistematis (nonformal), suka-suka penulisnya. Kadang dibuka dengan kisah, puisi, atau kata-kata mutiara. Tulisannya pun tidak mesti sebuah respon atas peristiwa/permasalahan yang aktual. Kadang bisa juga membahas sejarah, tokoh, sastra, dll. Esai-esai yang begitu khas, misalnya, Emha Ainun Nadjib alias Emha atau Cak Nun, Goenawan Mohammad, J. Sumardianta, Muhidin M. Dahlan, dan A.S. Laksana. Lain halnya kalau dimuat di jurnal atau majalah-majalah ilmiah kampus atau lembaga pendidikan, esainya akan sistematis karena memang dituntut untuk formal.

Esai-esai yang begitu khas, misalnya, Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun, Goenawan Mohammad, J. Sumardianta, Muhidin M. Dahlan, dan A.S. Laksana

Adapun karakter artikel adalah cara menganalisisnya menggunakan teori-teori ilmiah dan disiplin ilmu penulisnya. Kalau esai mengajak pembaca merenung, maka artikel mengajak pembaca untuk memahami persoalan sembari mendedahkan solusinya.

Artikel biasanya identik dengan karya ilmiah semacam makalah atau laporan penelitian.  Sedangkan esai dan opini identik dengan tulisan-tulisan di surat kabar. Esai biasanya muncul di hari minggu, sedang opini munculnya dari senin sampai sabtu.

Yuk bantu share. Semoga jadi amal jariyah dengan ikut berbagi ilmu bermanfaat ini. Aamiin.
Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Pin on Pinterest
Pinterest
Share on Tumblr
Tumblr
Share on LinkedIn
Linkedin
Rate this article!