Berfoto di Pameran Seni, Wajarkah?

0
51

Pusatsemangat.com – “Berfoto di Pameran Seni, Wajarkah?”. Selamat menikmati info menarik dari kami. Jangan lewatkan untuk membaca informasi ini sampai selesai. Semoga dapat memberikan inspirasi.

JAKARTA, KOMPAS.com – Berfoto di pameran seni adalah hal yang jamak dilakukan oleh para pengunjung. Hasil foto tersebut umumnya diunggah ke media sosial. Fenomena berfoto di pameran seni ini rupanya menimbulkan kontroversi.

Tak sedikit yang menyebut pengunjung yang berfoto di pameran seni dan megunggah ke media sosial dengan panggilan yang konotatif. Terkadang panggilan tersebut berujung perundungan, apalagi jika foto-foto tersebut dirasa melanggar aturan pameran.

“Ketika mereka selfie foto, itu point penting untuk selanjutnya. Ketika selfie, histeris melihat karya bagus, minta difoto, itu nanti akan berbeda,” kata CEO Art Jog, Heri Pemad saat dihubungi KompasTravel, Sabtu (19/5/2018).

Heri menyebutkan jika berfoto di depan karya seni adalah salah satu tahapan awal dari pengunjung pameran seni.

Sejak Art Jog diselenggarakan 2008, ia melihat karakteristik pengunjung yang terus berkembang ke arah positif.

Saat ini, mayoritas pengunjung Art Jog menurut Heri mengalami perubahan signifikan.

Mereka memiliki kesadaran seni yang tinggi, dengan membaca penjelasan karya, mencoba memahami karya, bertanya mengenai karya, ikut dalam tur seniman dan kurator, sampai pada tahap mengoleksi karya seni sesuai bujet masing-masing.

“Perubahan ini terlihat sejak Art Jog 2014,” kata Heri.

Tugas berat penyelenggara pameran seni

Untuk sampai pada tahap seperti mayoritas pengunjung Art Jog saat ini butuh proses. Heri menyebutkan edukasi telah dilakukan sejak 2009. Artinya butuh sembilan tahun agar pengunjung pameran berkunjung tak sekedar untuk berfoto.

“Kami menyadari (pengunjung) Indonesia belum seperti (pengunjung) negara-negara di Eropa dengan teks saja belum cukup,” kata Heri.

Pengunjung berfoto di salah satu karya yang dipamerkan di Art Jog 2018, Healing Garden oleh Hiromi Tango. KOMPAS.com/SILVITA AGMASARI Pengunjung berfoto di salah satu karya yang dipamerkan di Art Jog 2018, Healing Garden oleh Hiromi Tango.

Sosialisasi aturan banyak dilakukan lisan. Contohnya pemberitahuan sebelum masuk pameran, pengumuman di ruang pamer, dan penjaga pada hampir setiap karya yang dipamerkan.

Bukan hanya Art Jog, Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) di Jakarta juga melakukan upaya yang sama untuk edukasi pengunjung.

“Kami memang punya tugas yang lumayan berat karena Museum MACAN adalah museum seni modern dan kontemporer pertama di Indonesia dan baru buka selama enam bulan. Dalam sehari di akhir pekan ada ribuan pengunjung yang datang ke museum,” kata Public Relations Museum MACAN, Nina Hidayat, Sabtu (19/5/2018).

Regenerasi pengunjung baru dengan latar belakang usia dan daerah berbeda, membuat tugas penyelenggara pameran kian menantang.

Apalagi di Indonesia, belum banyak yang menyelenggarakan pameran seni sampai level internasional.

Heri mengatakan wajar ketika pengunjung pameran seni, apalagi yang baru pertama kali berkunjung ingin mengabadikan dengan foto.

Kasusnya sama ketika seseorang berkunjung ke alam, tergugah akan keindahannya kemudian ingin berfoto.

Pegunjung menikmati karya di Art Jog 2018.KOMPAS.com/SILVITA AGMASARI Pegunjung menikmati karya di Art Jog 2018.

“Itu akan kelihatan itu sekedar foto atau foto di karya yang dia kagumi. Sama sekali tidak ada aturan (unggah foto karya seni di media sosial) tetapi sebaiknya untuk kesadaran, menulis berfoto di depan karya mana dan siapa, seperti editorial saja,”

Saya kira itu lebih baik karena itu mengkonfirmasikan tentang apa yang dia foto, dan mempunyai kesadaran bahwa dia menunjukkan tidak hanya sekedar foto,” ujarnya.

Baik Art Jog maupun Museum Macan tetap terbuka kepada pengunjung yang ingin berfoto di pameran.

“Kami sudah siap untuk segala risiko dan proses edukasi jangka panjang,” kata Nina.

Heri menghormati setiap pengunjung yang sudah berkunjung dan membayar tiket masuk Art Jog.

“Karena tahun depan mereka mungkin tidak begitu (hanya berfoto tanpa mencoba menikmati karya) lagi,” kata Heri.

Tertunya berfoto dengan tetap mentaati aturan, demi keamanan karya dan kenyamanan pengunjung lainnya.

Terimakasih telah membaca informasi dari kami tentang “Berfoto di Pameran Seni, Wajarkah?”. Informasi ini pernah diterbitkan di sini. Jangan sampai tidak baca informasi menarik lainnya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here