Mau Punya Website? Mulai 50rb saja Anda sudah bisa punya website sendiri

Cara yang Benar Merayakan Iedul Fitri

Iedul fitri adalah salah satu hari raya umat Islam. Hari raya setelah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Pada hari itu semua umat Islam diharamkan melakukan puasa. Sebab hari tersebut merupakan hari suka cita bagi umat Islam.

Puasa itu adalah hari di mana kalian berpuasa dan iedul fitri adalah hari di mana kamu sekalian berbuka…” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

Hari raya Iedul Fitri sering disebut dengan hari lebaran. Hari raya ini semua umat Islam saling meminta dan memberi maaf. Hari itulah segala pertikaian dan permusuhan berguguran. Pada hari tersebut yang ada hanyalah senyuman dan kebahagiaan. Karena semua umat Islam merasakan ketentraman di hati mereka. Itulah hari lebaran yang membuat kekerabatan dan kekeluargaan semakin erat. Itulah iedul fitri yang memiliki makna kembali kepada fitroh. Fitroh manusia sebagai mahluk sosial, sebagai mahluk ciptaan Allah mencintai persaudaraan.

Sebagai umat Islam hendaknya kita mengetahui cara merayakan hari raya Iedul Fitri yang sesuai dengan ajaran Islam. Agar dengan perayaan tersebut kita mendapat pahala bukan dosa. Karena perayaan yang dilakukan sesuai dengan ajaran Rasul. Supaya kita tidak ikut-ikutan orang-orang kebanyakan.

Hal-hal yang diajarkan oleh Nabi kita shalallahu alaihi wa sallam terkait dengan pelaksanaan perayaan iedul fitri yaitu:

Mandi sebelum berangkat untuk melaksanakan ibadah (shalat) Ied. Kita disunnahkan untuk bersuci dengan melakukan mandi untuk hari raya karena pada hari tersebut kita akan berkumpul dengan orang banyak untuk melaksanakan shalat. “Dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar mandi pada saat Iedul Fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk shalat.” (HR. Malik, snadnya shahih).

Makan di Hari Raya disunnahkan sebelum melaksanakan shalat Ied. “Rasulullah dahulu tidak keluar pada saat iedul fitri sampai beliau makan dan pada iedul adha tidak akan makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.” (HR. Tirmidzi, sanadnya Hasan). Hal ini dilakukan oleh Rasulullah agar tidak ada sangkaan masih ada kewajiban berpuasa sampai pelaksanaan shalat iedul fitri.

Memperindah diri dengan berhias disunnahkan pada hari raya. Kita diperintahkan untuk memakai pakaian terbaik pada hari tersebut. Sebagaimana dalam suatu hadits dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada baginda nabi agar dipakai untuk berhias dengan pakaian tersebut di hari raya dan untuk menemui utusan. (HR. Bukhori dan Muslim).

Rasulullah tidak mengingkari persepsi umar, yaitu bahwa saat hari raya dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik, hal ini menunjukkan sunnahnya memperindah diri (Ahkamul iedain , Syaikh Ali bin Hasan). Namun perlu diingat larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki dan minyak wangi bagi kaum wanita  harus tetap diperhatikan.

Menggunakan jalan yang berbeda ketika pergi dan ketika pulang dari tanah lapang. Begitulah yang dilakukan oleh rasulullah ketika berangkat dan ketika pulang melaksanakan ibadah shalat ied.

Dari Jabir, beliau berkata, “Rasulullah membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat iedul fitri.” (HR. Al.Bukhori)

Hikmah dari sunnah ini sangatlah banyak. Kita bisa menebarkan salam, bertemu dengan orang banyak ketika di jalan, dapat memenuhi kebutuhan orang lain ketika bertemu di jalan, menebarkan syiar islam. Karena pasti yang ditemui adalah orang yang berbeda pula maka kita dapat menjalin silaturahim yang baru dengan orang yang baru kita temui.

Mengucapkan takbir disunnahkan ketika menuju tanah lapang. Karena nabi sendiri mengucapkan takbir saat perjalanan untuk melaksanakan shalat iedul fitri hingga sampai dilaksanakan shalat iedul fitri, jika telah selesai shalat, beluiau berhenti bertakbir (HR. Ibnu Syaibah dengan sanad shahih).

Mengucapkan selamat dengan mengucapkan “taqobalalloh minna wa minkum” dibolehkan saat hari raya iedul fitri yang artinya “Semoga Allah menerima amal kita dan amal kalian”. Ucapan ini diriwayatkan dari beberapa shahabat nabi shalallahu alaihi wa sallam.

Apabila iedul fitri bertepatan dengan hari Jum’at maka gugurlah kewajiban shalat Jumat bagi orang yang telah melaksanakan shalat ied. Namun bagi imam hendaknya tetap melaksanakan shalat Jumat barangkali ada orang yang ingin menghadiri shalat Jumat atau yang belum melaksanakan shalat Ied. “Diperbolehkan bagi mereka jika ied jatuh pada hari Jumat untuk mencukupkan diri dengan shalat ied saja dan tidak menghadiri shalat Jumat.” (Imam Ibnul Qoyyim).

Jangan lupa bayar Zakat fitrah sebelum pelaksanaan shalat ied. Karena jika melebihi waktu shalat ied tidak dihitung sebagai zakat melainkan sebagai shadaqoh.

Leave a Reply