John Wood, Leaving Microsoft to Change the World

Sudah dapat tempat kerja yang nyaman, nama perusahaan harum, dan gaji selangit. Lalu tiba-tiba ada “panggilan hati nurani”, maukah Anda meninggalkan pekerjaan Anda? Mungkin Anda akan disebut gila. Apalagi jika yang disebut “panggilan hati nurani” itu bukannya menghasilkan uang seperti pekerjaan sebelumnya, bukannya memberi posisi nyaman, tapi malahan mengorbankan waktu, tenaga, bahkan keluarga!! Dan bukannya dapat uang, malah mengeluarkan uang dari kantong sendiri. Bukan saja gila, tapi mungkin Anda akan dicap super gila.

Tapi itulah yang dipilih dan dilakukan seorang profesional di salah satu perusahaan terkaya di dunia: Microsoft. Namanya *John Wood*.  Apa yang sebenarnya dia lakukan?

*John Wood* lahir pada Januari tahun 1964, in  kota Hartford, negara bagian Connecticut, Amerika. Dia mengambil S1 atau undergraduate nya di University of Colorado, lalu melanjutkan S2 atau master’s degree dalam jurusan business administration di Kellogg Graduate School of Management yang terkenal di Northwestern University. Kemudian karena kecemerlangannya, dia menerima 4 gelar doktor kehormatan!

Masing-masing dari McGill University, the University of San Francisco, Westminster University, dan Wofford College.

Pada kurun waktu tahun 1991-1999, Wood bekerja total sebagai eksekutif untuk salah satu perusahaan terkaya di dunia: Microsoft. Posisinya tak tanggung-tanggung, 3 sekaligus: Director Marketing wilayah benua Australia, Director Marketing wilayah Asia-Pacific region dan Director Pengembangan Business untuk China Raya. Dan ia mengemban amanah global itu di usia 27 sampai 35 tahun! Bisa Anda bayangkan sekualitas apa orang ini?

Apa salah satu kuncinya bisa seperti itu? Salah satunya dengan ini: banyak mengkaji buku

Dalam kitab sucinya umat Islam, kunci pembuka dunia pertama adalah kata perintah membaca.

Itu juga yang disadari Wood ketika pada suatu hari di usia 34 tahun atau di tahun 1998, saat Wood berkesempatan wisata ke Himalaya_Immense_sekitar 3 minggu. Ia menemukan kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat disana di tengah popularitas objek wisata Himalaya yang mendunia.

John merasa kasihan ketika melihat perpustakaan yang hanya ada satu rak buku di dalamnya, itupun bukunya tidak penuh. Raknya dikunci rapat takut bukunya rusak karena stok buku yang ada sangat terbatas. Punya buku-buku tapi terkunci? Bukunya pun ternyata bukan buku yang layak dibaca anak-anak seusia mereka. Bahkan tak sedikit bukunya adalah buku yang ditinggalkan para pejalan kaki yang melewati daerah itu.

Sedih, bukan?

Langkah pertama yang bisa ia lakukan awalnya hanya memberi sumbangan. Ia menggalang sumbangan buku dari teman-temannya. Kebanyakan lewat jaringan internet dengan teman-temannya.

Sumbangan pertamanya itu baru bisa ia kirim 3000 buah buku sekitar setahun sejak ia tinggalkan Himalaya itu. Bahkan saking sangat sibuk tapi ingin membantu, ia sampai melibatkan orangtuanya yang sudah punya banyak waktu untuk mengurus pengiriman donasi ini.
Orang tuanya yg awalnya heran, akhirnya malah sangat mendukung bahkan turun  membantu langsung.
Walaupun sudah membantu cukup signifikan, tapi bayangan kondisi masyarakat disana terus mengusik nuraninya. Sampai kemudian…

Tidak mau setengah-setengah, Wood membuat keputusan yang menggegerkan keluarga dan rekan-rekan kerjanya: ia memutuskan _Quit_ alias berhenti dari sebuah perusahaan kelas dunia yang diidam-idamkan para pencari kerja itu.

Leave a Reply