Keajaiban Cita-cita yang Patut Dicontoh

Suatu hari di sebuah kelas berkumpul sekitar 30 siswa Taman Kanak-kanak. Mereka tampak lucu-lucu dan manis. Tangan mereka dilipat di atas meja dengan wajah senyum ceria pertanda telah siap menerima arahan dari sang guru.

Sang guru menyampaikan tema “Cita-citaku” kepada para murid. Setelah pembukaan dan lain sebagainya, dibukalah pertanyaan oleh sang guru.

“Anak-anak, tadi sudah ibu sampaikan macam-macam profesi. Sekarang ibu mau tanya cita-cita kalian. Nanti saat kalian sudah besar mau jadi apa? Ayo acungkan tangan!”

Anak-anak berebut mengacungkan tangan. “Saya bu”, “Saya bu”, “Saya bu”.
Anak-anak tanpa pikir panjang langsung mengucapkan cita-citanya setelah dipilih oleh sang guru.

“Iya silakan Andita”, ibu guru sambil mengarahkan tangannya mempersilakan.
Sambil malu-malu Andita mengucapkan cita-citanya, “Aku mau jadi bidan kaya ibu aku. Biar aku bisa bantu orang-orang”

“Iya bagus. Tepuk tangan buat Andita! Ayo siapa lagi?”
Anak-anak berebut mengacungkan tangan. “Saya bu”, “Saya bu”, “Saya bu”.

“Iya silakan Parmin”, ibu guru sambil mengarahkan tangannya mempersilakan.
Parmin mengucapkan cita-citanya dengan percaya diri, “Aku pingin jadi polisi biar bisa tangkap penjahat.”

“Iya bagus. Tepuk tangan buat Parmin! Ayo siapa lagi?”
Anak-anak berebut mengacungkan tangan. “Saya bu”, “Saya bu”, “Saya bu”.

“Iya silakan Mimar”, ibu guru sambil mengarahkan tangannya mempersilakan.
Mimar mengucapkan cita-citanya dengan penuh semangat, “Aku kalo gede mau jadi presiden aja bu. Aku mau sekolahin yang ga punya uang kaya aku.”

“Huu…., mana mungkin, gak mungkin, ngimpi” Anak-anak menyoraki.

“Tenang-tenang! Terimakasih Mimar. Cita-cita yang bagus.”

*******************

Suatu hari di sebuah Sekolah Dasar

Pak guru datang menenteng buku paket. Pak guru memulai pelajaran Ilmu Sosial. Pak guru menyampaikan beberapa nama pekerjaan yang ada di lingkungannya.

Baca Juga:  Hari yang Tak Pernah Senja

“Anak-anak, kalian sudah mengenal pekerjaan di sekitar kita. Kalian kalau sudah besar mau jadi apa?”

Tidak ada yang menjawab…

“Baik, bapak mau pergi sebentar. Mulai sekarang coba pikirkan cita-cita kalian kalau sudah besar mau jadi apa.” Pak guru meninggalkan kelas selama beberapa menit.

Anak-anak tampak sibuk memikirkan cita-cita mereka. Ada satu anak yang tampak bingung yang akhirnya memutuskan cita-citanya juga. “Ah udahlah aku mau jadi apa aja, terserah aku. Aku mau jadi pembalap aja ah.”

Pak guru datang dan mengucapkan salam. Kemudian dipersilakan mulai dari siswa paling kanan dari depan.

“Silakan Eman.” Pak guru mempersilakan

“Saya mau jadi pilot pak”.

“Silakan Unang.” Pak guru mempersilakan

“Saya mau jadi pedagang pak”

“Silakan Santi.” Pak guru mempersilakan

“Kalo saya mau jadi suster pak.”

“Suster ngesot kali.” Ada yang nyeletuk. Semua tertawa

“Udah-udah, ayo lanju lagi” Kata pak guru

“Silakan Andita.” Pak guru mempersilakan

“Aku mau jadi bidan pak”

“Oke. Silakan Mimar.” Pak guru mempersilakan

“Aku..aku..aku mau jadi pembalap pak.”

Ada anak yang protes… “Apa? Pembalap? naek sepeda aja gak bisa, mau jadi pembalap”

“Udah, gak apa-apa. Ayo lanjutkan.”

**********************************

Suatu hari di sebuah Sekolah Menengah Pertama

Di pagi hari kepala sekolah masuk ke kelas menggantikan guru yang sakit. Kepala sekolah memulai memberikan nasehat.

“Dulu bapak pengen sekali menjadi guru agama. Bapak belajar ke pesantren. Terus bapak masuk jurusan Pendidikan Agama Islam. Alhamdulillah bapak sudah bisa jadi guru PAI. Sekarang bapak juga menjadi kepala sekolah. Sekarang bapak ingin tahu cita-cita kalian.”

Semua siswa mempersiapkan jawaban. Satu persatu ditunjuk.

“Iya, kamu. Nama kamu siapa?” Kepala sekolah bertanya.

Baca Juga:  Korupsi Tak Perlu Diwarisi

“Nama saya Andita pak”

“Cita-citamu?” Tanya kepala sekolah

Andita menjawab, “Saya mau jadi bidan pak.”

“Oke. Sekarang kamu” Kepala sekolah menunjuk

“Nama saya Mimar mau jadi Guru Agama pak.”

“Oke, bagus. Nanti belajar ngaji ya di rumah”

***************************************

Suatu hari di sebuah Sekolah Menengah Atas
Terjadi diskusi antar teman di sebuah taman sekolah. Parmin yang sudah kelas 3 SMA juga teman-temannya, Mimar, Andita, dan Santi memulai perbincangan.

“Teman-teman, saya udah ikutan tes jadi polri. Sekarang lagi nunggu pangilan lagi. Doain ya, semoga bisa lolos.” Kata Parmin.

“Saya juga udah daftar kebidanan. Alhamdulillah ketrima tanpa tes.” Kata Andita.

Disambung oleh Santi, “Saya juga baru dapat surat dari universitas kedokteran. Saya ditrima di STIKES.”

“Kalau saya sudah diterima di jurusan manajemen. Saya mau jadi pebisnis.” Kata Mimar.

***************************************

Suatu hari di sebuah universitas/ perguruan tinggi
Parmin, Mimar, Andita, dan Santi bertemu lagi. Mereka mengadakan reuni.

“Sudah lama ya tidak terasa baru bisa kumpul lagi. Ngomong-ngomong, apa rencana kalian nanti setelah beres kuliah? Kalau saya mau kerja di rumah sakit ternama di dekat rumah saja. Kebetulan ada bibi saya sudah bekerja di sana sejak lama.” Santi memulai pembicaraan.

“Wah, peluang besar tuh.” Kata Mimar

“Peluang apaan?” Andita penasaran.

Mimar menjelaskan, “Kan ada bibinya di sana. Santi tinggal minta bantuan bibinya saja kalau mau diterima.”

“Tapi kan tetep harus diseleksi.” Timpal Santi.

“Iya juga sih.” Mimar garuk-garuk kepala.

“Kamu gimana Andita?” Santi bertanya.

“Kalau saya, mau magang dulu bareng dengan Ibu saya. Sekalian belajar gitu.” Jawab Andita

Parmin pun mengambil bagian, “Saya kemarin dapat pengumuman, saya akan dikirim ke luar pulau selama beberapa bulan untuk menjalankan tugas pertama.”

Baca Juga:  Masa Lalu antara Biru dan Kelabu

“Wah hebat kamu Min.” Santi kagum
“Iya…iya..hebat” Semua mengangguk-angguk penasaran

“Kalau kamu Mar?” Parmin meminta Mimar berbicara.

“Saya lagi ngerintis kursusan. Sekarang saya lagi butuh orang buat jadi pengajar.”

“Cita-citamu dulu pengen jadi guru kecapai sekarang. Pengen jadi pengusaha juga kecapai. Tingal jadi pembalapnya belum.” Kata Andita.

“Gak mau ah, ada pak polisi di sini. Takut ditangkep nanti.” Sambil senyum Mimar menjawab.

“Kan jadi presiden juga. Turunin aja pangkatnya kalau berani nangkep” Santi menambahkan.

“Ampun..ampun..ampun..hahaha.” Parmin menambahkan keceriaan.

Semuanya tampak bahagia bisa mewujudkan cita-cita mereka yang dahulu dianggap mimpi yang kosong, dihina, dan dianggap tidak mungkin. Tapi begitulah seharusnya, impian atau cita-cita mesti tetap dijaga karena ia tidak akan tercapai hari ini melainkan akan tercapai di masa yang akan datang.

Tapi tetap, mimpi juga mesti realistis. Jangan sampai asal bunyi. Bisa-bisa jadi bingung sendiri. Ujung-ujungnya yang penting kerja dan mendapat uang. Tidak seperti itu, bukan?

Yuk bantu share. Semoga jadi amal jariyah dengan ikut berbagi ilmu bermanfaat ini. Aamiin.
Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Pin on Pinterest
Pinterest
Share on Tumblr
Tumblr
Share on LinkedIn
Linkedin