1090 E-Book GRATIS
DOWNLOAD

Menyusuri Geoforest Watu Payung Turunan, “Permata” dari Gunungkidul

Pusatsemangat.com – “Menyusuri Geoforest Watu Payung Turunan, “Permata” dari Gunungkidul”. Selamat menikmati info menarik dari kami. Jangan lewatkan untuk membaca informasi ini sampai selesai. Semoga dapat memberikan inspirasi.

GUNUNGKIDUL, KOMPAS.com – Kabupaten Gunungkidul di Yogyakarta memang memiliki banyak kawasan perbukitan. Kondisi itu sesuai dengan nama kabupaten bersemboyan Handayani tersebut yang terdiri dari dua kata, yakni Gunung dan Kidul atau selatan.

Selain memiliki hamparan pantai pasir putih yang indah, perbukitan dan pergunungan Gunungkidul tak kalah memesona. Ada banyak destinasi wisata di kawasan perbukitannya, salah satunya Watu Payung Turunan.

Destinasi ini tepatnya berada di Dusun Turunan, Desa Girisuko, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Jarak dari Kota Yogyakarta adalah kurang-lebih 28 kilometer.

Waktu tempuh Kota Yogyakarta-Watu Payung Turunan sekitar satu jam perjalanan. Rute termudah adalah melalui Jalan Imogiri Barat kemudian lanjut ke selatan di Jalan Imogiri-Siluk.

Cukup ikuti jalan utama sampai kawasan perbukitan. Jalan akan cukup menanjak dan berkelok sehingga kondisi kendaraan harus dipastikan sanggup melaluinya. Akan ada papan penunjuk jalan di sebuah perempatan ke arah Watu Payung.

Perjalanan dilanjutkan ke arah timur di Jalan Turunan. Sekitar 450 meter melaju, belok kiri di jalan cor yang merupakan pintu masuk ke Watu Payung. Tak lama kemudian terdapat pos retribusi dengan harga tiket hanya Rp 5.000 per orang.

Pesona keindahan hamparan pergunungan hijau

Area parkir kendaraan sudah ada di depan mata. Usai parkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri kawasan hutan jati di geoforest Turunan. Di sini terdapat batu yang bagian bawahnya menyempit sehingga tampak seperti payung.

Penamaan Watu Payung diambil dari batu yang menyempit pada bagian bawahnya sehingga tampak seperti payung.Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya Penamaan Watu Payung diambil dari batu yang menyempit pada bagian bawahnya sehingga tampak seperti payung.

Batu ini pun dinamai Watu Payung atau Batu Payung oleh masyarakat. Destinasi ini pun lebih familiar dengan nama itu. Untuk menuju spot panorama, pengunjung harus berjalan kaki ke arah utara melalui jalan setapak di hutan jati.

Guna mempercantik kawasan, pengelola menambahkan beberapa ornamen penghias yang dibuat oleh seniman. Salah satunya yang juga pertama dijumpai adalah semacam gerbang unik dari kayu di tengah hutan jati.

Karena keunikannya, pengunjung bisa berfoto di sini dengan gratis. Terus berjalan ke utara, sampailah perjalanan di spot panorama. Hamparan pemandangan terbuka ke arah utara tampak begitu memesona.

Lokasi ini pun menjadi spot favorit foto pengunjung. Berlatar belakang hamparan luas perbukita hijau dan lembah Sungai Oya, hasil jepretan kamera nantinya akan begitu menawan.

Spot panorama di Watu Payung, Panggang berupa perbukitan hijau yang begitu indahKompas.com/Anggara Wikan Prasetya Spot panorama di Watu Payung, Panggang berupa perbukitan hijau yang begitu indah

Tak hanya menyajikan keindahan panorama alam, suasana di Watu Payung Turunan juga begitu mendamaikan. Letaknya yang jauh dari jalan membuat nyanyian alam terdengar begitu merdu di sini.

Nikmati suara rumput dan dedaunan yang diterpa angin, diselingi oleh kicauan burung. Tak ketinggalan, semilir angin juga akan membelai jiwa-raga untuk mengusir segala lelah, jenuh, dan gundah.

Pesona sunrise dan samudera kabut

Pagi hari adalah saat yang tepat untuk mengunjungi Watu Payung Turunan. Keindahan sunrise bisa disaksikan di sini, terutama ketika matahari sedang ada di lintang utara musim kemarau.

Jika ingin melihat matahari terbit, tentu harus sudah sampai lokasi sekitar subuh. Setelah matahari pagi muncul, keindahan pun belum berakhir. Giliran samudera kabut yang menunjukkan pesona keindahannya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

“..Watu Payung sendiri diambil dari ikon obyek wisata ini, yakni berupa batu dengan bentuk melebar seperti payung, yang dapat sobat lihat di pintu ke arah gardu pandang. Bentunya yang mirip payung itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk menamai obyek wisata ini. Nama lain dari Watu Payung ini sebenarnya adalah Geoforest Turunan, karena obyek wisata Watu Payung ini berlokasi di kawasan hutan perbukitan karst di Padukuhan Turunan, Desa Girisuko, Kecataman Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Watu Payung atau Batu Payung ini kemudian lebih merakyat sehingga banyak dipakai warga ataupun wisatawan untuk menyebut kawasan ini…” . . ???? Wisata watu payung turunan Panggang gunung kidul jogjakarta ???? @adhe930 . . #watupayung #watupayungpanggang #exploreambarawa #instanusantara #exploresemarang #jpmpjateng #explorecentraljava #indoguytraveller #exploreindonesia #thisisindonesia #keluarbentar #ayodolan #indonesiajuara #indonesiantraveler #indotravellers #lingkarindonesia #jogjajateng #indozonetravel #wonderful_location #nusantarakita #kompasnusantara #mainsebentar #galerijogjajateng #parapejalan #describeindonesia #exploreidku #livefolkindonesia #livefolkadventure #indoflashlight

A post shared by Danar (@danarsibolang) on Jun 26, 2018 at 12:01am PDT

Kabut putih yang melayang perlahan di antara puncak bukit menjadi momen syahdu di pagi hari. Berfoto dengan latar belakang samudera kabut seolah tampak bagaikan sedang terbang di atas awan.

Waktu terbaik mengunjungi Watu Payung adalah di awal musim kemarau sekitar Bulan Mei sampai Juli. Pada waktu tersebut, kemungkinan sunrise akan terlihat karena cuaca cerah. Lanskap juga belum begitu kering sehingga menyegarkan mata.

Hari cerah di musim hujan pun merupakan saat yang pas untuk ke sini. Hijaunya barisan perbukitan yang sering bermandikan air hujan akan tersaji di depan mata.

Sementara di puncak-akhir kemarau seperti pertengahan Juli hingga September, kondisinya kemungkinan kering. Hutan jati akan meranggas, tak ada lagi hijaunya pergunungan dan Sungai Oya pun mengering.

Samudera kabut yang bisa dijumpai di Watu Payung, Panggang saat pagi hari.Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya Samudera kabut yang bisa dijumpai di Watu Payung, Panggang saat pagi hari.

Fasilitas penunjang wisata sudah dibangun di Watu Payung Turunan ini. Tersedia toilet dan warung makan serta minuman. Ada pula joglo untuk beristirahat dan mushala bagi mereka yang ingin menjalankan salat.

Terimakasih telah membaca informasi dari kami tentang “Menyusuri Geoforest Watu Payung Turunan, “Permata” dari Gunungkidul”. Informasi ini pernah diterbitkan di sini. Jangan sampai tidak baca informasi menarik lainnya ya.

"Kita tidak pernah tahu bahwa ilmu dari link yang kita sebar mungkin dapat merubah hidup seseorang."

Leave a Reply