Mau Punya Website? Mulai 50rb saja Anda sudah bisa punya website sendiri

Perjalanan Cinta di Lembah Savana

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Bismillah…
Semoga menginspirasi sahabatku sekalian sejagat raya 🙂

Kisah ini bermula ketika aku berusia sembilan tahun. Ketika itu aku baru pertamakali bisa baca Al-Qur’an dengan lancar. Dan surat favoritku adalah Alahab. Begitulah teman-teman dan kakakku mengatakannya. Karena yang sering aku membacanya adalah surat tersebut. Selain itu kakakku yang ketiga memberiku hadiah karena memang beliau tahu hobiku adalah membaca, beliau membalikanku buku sirah yang pas untuk anak seusiaku. Setelah aku pelajari sungguh menakjubkan isinya. Selain itu aku temukan kisah tentang perjuangan generasi pemula Islam yang begitu tangguhnya. Di sana pun ada cerita tentang Abu Lahab yang menghalangi perjuangan itu. Maka itu semua membuatku sangat tertarik untuk mempelajari Islam lebih dalam. Aku dibimbing keluargaku mencintai Islam karena memang begitu do’a dari kakek buyutku dahulu, kata pamanku. Meskipun demikian rasa hausku belum terobati maka aku terus mencarinya dan kakak-kakakku yang lain mensuplai buku-buku Islam untukku baik itu berbentuk komik atau cerita berhikmah.

Awal Kaki ini Berpijak

Tahun 1998 aku mulai bergabung dalam organisasi remaja muslim di desaku yang berpusat di mesjid pusat di desaku. Pertama aku dibina menyusun program meskipun aku masih awalan, aku digabungkan di divisi pendidikan. Karena memang kadernya dapat dihitung dengan jari. Jadi langsung di tempatkan pada tempatnya sesuai potensinya. Kakakku mengajariku, membimbingku. Memang semua kakakku menjadi anggotanya dan kakakku yang ketiga itu yang menjadi pimpinannya. Membina kepercayaan masyarakat sungguh tak mudah. Sering ditemukan teror-teror berbentuk surat kaleng di kantor kami. Namun kakakku bilang jangan hiraukan itu, niat kita baik maka berperilaku baik akan membuat keadaan semakin baik. Karena memang di zaman itu, setiap perkumpulan selalu dicurigai maka kami bersatu dengan pemerintah desa sebelumnya agar dapat leluasa mengembangkan sayap dakwah di desa kami. 2001 kakakku yang keempat memegang kepemimpinan di sana. Saat itu aku sudah belajar di SLTP Negeri. Kami merapat begitu juga di dalamnya kakakku dan generasi pemula sebagai pembina bersepakat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Yaitu menjadi panitia di setiap pengajian-pengajian, memberikan hiburan berupa nasyid, dan siap diundang dalam do’a bersama.

Perjalanan Cinta di Lembah Savana

Mendapat pengakuan dari masyarakat begitu lama tidak semudah angin yang menghembuskan debu di jalanan. Di sana banyak bebatuan yang merintang namun semakin sering bebatuan itu kita lalui untuk berpijak dan kita injak setiap hari, maka batu itu semakin tenggelam ke dalam tanah. Kami tak pedulikan halangan itu, yang kami pedulikan adalah tetap berjalan. Semakin lama Allah semakin melancarkan perjalanan kami sehingga kami dapat mempunyai soundsystem dan panggung khusus untuk pengajian. Peralatan ini desewakan dan hasilnya digunakan untuk mengokohkan dakwah kami di sana.

Berkah Sebuah Cinta

Karena aku sangat menginginkan ilmu keislaman yang lebih dalam maka aku pada tahun 2003 melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah. Orang tuaku belum mengizinkan aku jauh dari rumah. Karena memang mereka menanamkan kemandirian dahulu padaku sebelum melepaskanku. Aku dipercayakan memegang mesin penggilingan tepung dan padi. Setiap pulang sekolah pelanggan sudah pada ngantri. Aku pulan sekolah pukul satu atau setengah dua. Jam dua sudah mulai start menggiling padi sampai ashar. Pukul empat aku mulai menggiling beras membuat tepung tetangga yang tiap hari membuat serabi untuk sarapan hampir setiap pagiku. Dikasih sayuran lodeh menambah kelezatannya. Hasil dari giling menggiling tadi dikumpulkan ke ibuku sebagai bendahara. Sebagian diberikan kepadaku untuk ongkos sekolah. Terkadang aku membiayai sekolahku tanpa sepengetahuan orangtuaku karena sisa uang yang diberikan orangtuaku itu aku sisipkan untuk biaya sekolah. Orang tuaku cukup tahu saja bahwa beban mereka menyekolahkanku sudah ringan. Maka Allah menambah berkah dari semua ini. Semester dua aku mendapatkan peringkat pertama dan bagi yang berperingkat ini yayasan memberikan beasiswa bebas SPP selama satu semester. Keberkahan ini berlangsung hingga akhir aku belajar di sana. Inilah berkah cinta kepada orangtua.

Dunia Kerancuan

Sejak aku duduk di SLTP dan Aliyah aku sudah mulai banyak pertanyaan tentang masyarakatku. Begitu kentalnya masyarakatku berpegang pada adat. Akidahpun terancam syubhat. Aku merasa gelap dan mati rasa karenanya. Maka aku bertanya kepada kakakku yang pernah mesantren selama Aliyahnya tentang yang terjadi di masyarakat terkait dengan akidah. Kakakku menunjukkanku sebuah buku tauhid namun aku belum diizinkan membacanya karena aku masih usia SLTP. Beliau hawatir apabila aku mempelajarinya maka aku terlalu mengimajinasikannya. Memang sih, usia waktu itu sedang asyik berimajinasi. Maka kakakku cukup memintaku untuk mengikuti jalan dakwah yang beliau geluti. Dari situ aku banyak belajar memahami masyarakat, karakter masyarakat. Sehingga aku memahami mengapa ada fanatisme antara ormas dan antar budaya. Yang aku sayangkan adalah mereka yang mengikuti sesuatu tanpa ilmu sehingga sesat di dalamnya. Kiyai dan ustadz membingungkan masyarakat. Di lain sisi menganjurkan kebaikan namun tak memberikan teladan. Atau bahkan melanggarnya. Aku yang masih awalan pernah menegur orang yang menyediakan sesajen namun apa yang aku dapatkan selain cacian dan makian. Itu tidak membuatku surut sehingga mendorongku tetap belajar ilmu Islam.

Krisis Teladan

Suatu hari aku merasa putus asa ketika di pertengahan saat aku di Aliyah. Namun aku mendapatkan motivasi dari seorang guru. Beliau mengatakan “Jangan banyak mencela, ambillah hikmahnya”. Memang banyak hikmahnya. Aku kecewa pada guru yang datang mengajar namun tak mendidik. Ada yang kerjanya cuma mencaci tanpa teladan. Merokok di lingkungan sekolah padahal ia melarang muridnya merokok. Maka tak heran murid-muridnya juga merokok sembunyi-sembunyi. Aku pernah berencana pindah sekolah karena memang sering sekali beberapa guru tak memperhatikan muridnya. Hadir terlalu siang bahkan banyak yang tidak hadirnya. Mengajar hanya dari buku bukan dari ilmu yang ia miliki di otaknya. Terkadang ada yang tidur di kelas sehingga ditinggalkan murid-muridnya. Pernah kami mogok sekolah selama tiga hari saat kelas tiga. Tak tahan dengan perilaku mereka. Bukan hanya itu, kami mendapati dua orang di antara kami tidak ikut belajar, hanya ikut ujian saja. Dan ini diizinkan kepala sekolah. Meliburkan diri sampai tiga hari membuat mereka kehilangan. Sehingga di hari ketiga beberapa guru mendatangi rumah kami, meminta kami belajar lagi. Namun kami memberikan syarat, guru mengajarlah dengan baik, kepala sekolah diganti saja, dua siswa yang hanya ingin ikut ujian itu suruh belajar juga. Begitulah kesepakatan kami yang melakukan protes. Hal ini ternyata sampai kepada yayasan. Sehingga seminggu setelah peristiwa tersebut mereka merapat dan sebulan kemudian kepala sekolah diganti dengan yang lebih baik. Semua staf dan guru dibenahi dan dua siswa yang menjadi masalah kembali ikut belajar. Sebelumnya sering sekali siswa di kelasku membolos, karena memang di kelas juga bengong, gurunya tidak ada, perpustakaan pun dikunci. Terkadang cuma nitip tugas nyalin buku ke TU. Setelah peristiwa itu berakhir maka banyak sekali informasi yang masuk kepada kami. Perubahan yang jauh lebih baik. Aku dan teman-temanku diikutsertakan dalam tryout saringan melanjutkan ke perguruan tinggi. Ternyata hanya aku saja yang lolos dari beberapa tes. Sehingga aku harus mengikuti tes selanjutnya. Inilah sejarah berharga yang aku temui. Kepala sekolahku mengantarku pulang pergi ke lokasi tes itu meskipun jaraknya sangat jauh. Aku menjadi siswa favorit sekolah itu. Aku dijadikan model di Aliyah dan SLTP karena aku lolos dari tes itu. Maka setelah sepeninggalan kami dari Aliyah, sekolah itu semakin berkembang kualitasnya dan siswanya juga bertambah, begitu pula SLTP yang kemudian berubah menjadi SMPN terfavorit.

Merantau Menyudahi Dahaga

Ternyata Allah tak mengizinkanku melanjutkan kuliyah di tempat yang dekat. Allah memilihkanku melanjutkan belajar di tempat yang sejuk di sebuah tempat yang terkenal dengan “Kota Santri”. Tasikmalaya menjadi pilihan setelah tes keperguruan negeri favorit tak bisa dilalui. Di sebuah universitas swasta di bumi siliwangi di sini bermula percikan cahaya itu berpijar. Ini memang harapanku sejak dulu. Aku ingin mendalami Islam. Awal aku kuliyah, aku ingat sebuah kata bahwa tempat yang paling baik adalah mesjid. Itu memang sebagian isi dari sebuah hadits. Maka aku yakin apabila aku menginginkan berjumpa dengan orang-orang baik maka aku harus sering berada di sana. Maka itulah yang terjadi. Beberapa senior mendatangiku dengan bahasa yang baik dan membuatku tertarik padanya. Akupun teringat nasihat seorang guruku, apabila kuliyah nanti aku harus mengikuti suatu organisasi. Dan aku sendiri berharap organisasi itu bisa memberikan pemahamanku akan Islam bisa lebih dalam. Aku tidak salah dengan siapa aku sedang bicara di tempat itu. Mereka adalah aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Mereka memberikan motivasi-motivasi kepada kami agar kami tidak goyah selama kami kuliyah. Sejuknya kata-katanya, tulus nasehatnya, ikhlas senyumnya, mudah akrab dengan siapapun yang ia jumpai.

Ternyata Dahaga Tak Pernah Berakhir

Setahun aku belajar di sana, baru aku mendapatkan sesuatu yang amat berbeda. Bergabung dalam lembaga dakwah yang walaupun sama, pengikutnya tak seberapa banyaknya seperti saat aku bergabung di ikatan remaja muslim di desaku. Struktur dan programnya sangat rapi lebih rapi daripada organisasiku waktu di desa juga lebih luas jangkauannya hingga tingkat nasional. Lembaga dakwah ini pada tahun 2006 saat aku pertama kali belajar di sana, menjadi tuan rumah Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDK Nasional). Aku semakin bersemangat menggali ilmu di sini, dikelilingi orang-orang shaleh. Aku sering diajak mereka mengaji setiap ba’da Shalat Jum’at. Di sini pula aku diperkenalkan kepada tarbiyah. Pertengahan 2007 aku diperkenalkan dengan seorang ustad oleh sahabatku (yang nantinya menjadi ketua KISI). Kami berta’aruf dipertemuan pertama, tidak langsung pada materi. Berbeda ternyata cara ngajinya. Kami tidak langsung dikasih yang berat-berat. Karena memang beliau menginginkan kami menyukainya dan menyukai gaya belajarnya. Entah mengapa ini terasa sangat berbeda. Ketika tidak mengikuti tarbiyah sekali saja hatiku terasa hampa. Inilah indahnya ketika aku dalam dahaga dan aku ingin selalu tenggelam dalam dahaga itu dalam waktu yang lama sehingga aku temui sesuatu suatu kelezatan dalam lembaran dakwah dan dalam untaian ibadah. Proses tarbiyah ini berlenjut sampai sekarang dan proses tarbiyah ini takan pernah berakhir di kehidupanku hingga akhir masaku. Itulah keinginanku.

Sebenarnya masih banyak yang ingin aku sampaikan tentang perjalananku sampai aku bergabung dengan lembaga-lembaga lainnya seperti yang sekarang bergabung dalam tim Indonesia Jenius menuju Muslim Jenius. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi pembaca yang di cintai Allah SWT.

Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Leave a Reply