Rahasia Kekayaan Nabi, Tips Agar Cepat Kaya dan Berkah

Semua manusia di belahan bumi manapun menginginkan hidup yang layak. Untuk itu mereka berlomba-lomba mendapatkan harta benda yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka berburu kekayaan dengan berbagai cara. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam memberikan nasehatnya bagi kita sebagai umatnya dalam sebuah hadits berikut ini

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dunia adalah ambisinya, maka Allah akan menghancurkan kekuatannya, menjadikan kemiskinan di depan matanya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah Allah takdirkan. Dan barangsiapa akhirat adalah tujuannya, maka Allah akan menguatkan urusannya, menjadikan kekayaannya pada hatinya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (HR Ibnu Majah)

Baca: 

Rahasia Menghasilkan Uang Online dan Offline dengan Mudah

Ibu Rumahtangga berpenghasilan tetap tanpa keluar rumah

Cara kaya sesungguhnya






Hendaknya kita sebagai hamba Allah senantiasa tidak mengorientasikan kehidupan kita hanya untuk meraih dunia saja. Ketika kita mengorientasikan diri kita kepada akhirat maka segala kekayaan itu adalah hal mudah bagi Allah yang maha kaya. Sehingga tidak semestinya kita takut miskin menjadi hamba Allah, Allah berikan kekayaan bukan hanya berbentuk angka atau barang melainkan juga kesehatan dan kemudahan lainnya serta ketentraman dalam keluarga juga kenikmatan dalam keimanan merupakan kekayaan yang tidak semua orang memilikinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam nyatakan sebagai kekayaan yang sebenarnya.

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Kekayaan bukanlah banyak harta benda, akan tetapi kekayaan adalah kekayaan hati.” (Hadis riwayat Bukhari Muslim)
Ibnu Baththal berkata, “Hadis ini bermakna bahwa kekayaan yang hakiki bukan pada harta yang banyak. Karena, banyak orang yang Allah luaskan harta padanya namun ia tidak merasa cukup dengan pemberian itu, ia terus bekerja untuk menambah hartanya hingga ia tidak peduli lagi dari mana harta itu didapatkan, maka, sesungguhnya ia orang miskin, disebabkan karena ambisinya yang sangat besar.”
Oleh karena itu kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. Orang yang merasa cukup dengan pemberian Allah, tidak terlalu berambisi untuk menambah hartanya dan terus-menerus mencarinya, maka berarti ia orang yang kaya”
Al-Qurthubi berkata, “Hadis ini bermakna bahwa harta yang bermanfaat, agung dan terpuji adalah kekayaan jiwa.”
Dengan demikian, tidak selalu harta benda yang banyak itu mendatangkan kebahagian, kebaikan dan kesenangan bagi pemiliknya. Kekayaan yang sebenarnya adalah sesuatu yang manusia rasakan dalam hatinya. Hatilah yang menentukan seorang manusia menjadi senang atau sengsara, kaya atau miskin dan bahagia atau sedih. Pangkalnya ada dalam hati.
Hati yang takut kepada azab Allah, beriman, penuh rasa syukur dan cinta kepada Pemilik dan Pemberi rizki sebenarnyalah yang akan memperoleh kebaikan dan kebahagiaan dari harta yang dimilikinya, sebesar apapun harta tersebut.
Ketika itu  Nabi Sulaiman menjadi penguasa yang diwarisi dari nabi Daud Alaihissalam. Dari manusia, jin sampai hewan-hewan pun tunduk akan perintah nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman diberi kuasa  oleh Allah SWT untuk memerintahkan jin-jin dalam membangun bangunan dan memindahkan singgasana ratu Saba’. Dan mengajak ratu Saba’ untuk beriman kepada Allah dan meninggalkan agamanya terdahulu yaitu menyembah matahari.
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. (QS Shaad: 35).

Allah menjawab doanya dengan memberikan anugerah dan pengetahuan yang besar serta melimpahkan kekuasaan yang besar dan wewenang yang kuat atas Nabi Sulaiman as. Dalam ayat-ayat yang menceritakan kehidupannya, berbagai perincian mengenai kekayaan, kewenangan, dan bagaimana dia menggunakan pengetahuannya telah disampaikan.

Bertubi-tubi berkah yang dikaruniakan kepada Nabi Sulaiman as membuatnya semakin bersyukur kepada sang pencipta langit dan bumi, Allah SWT. Syukur nabi Sulaiman saat dipuncak keseksesan di tuangkan kedalam sebuah doa Nabi Sulaiman:
maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS An Naml: 19)

kekayaan hati, selalu bersyukur atas rezeki yg diberikan Allah,cara mensyukuri nikmat Allah dengan memaksimalkan usaha dalam mencari nafkah sehingga mampu memakmurkan pribadi dan keluarga serta menjadi rahmat bagi alam,

Sungguh tidak tepat ketika ada orang sukses mengatakan “Kesuksesan ini adalah hasil kerja kerasku”. Orang seperti ini tidak akan kekal kesuksesannya karena tidak bersyukur. Sebaiknya kita mengatakan “Kesuksesan ini adalah dari Allah agar aku mensyukurinya”. Sudahkah Anda bersyukur hari ini?
Kekayaan sejati terletak pada sifat qana’ah. Qana’ah adalah suatu sikap merasa cukup dengan pembagian rezeki yang diberikan Allah, dan menyandarkan kebutuhan hanya kepada Allah. Qana’ah adalah kekayaan sejati. Oleh karenanya, Allah menganugerahi sifat ini kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah ta’ala berfirman,
ﻭَﻭَﺟَﺪَﻙَ ﻋَﺎﺋِﻠًﺎ ﻓﺄﻏﻨﻰ
“Dan Dia menjumpaimu dalam keadaan tidak memiliki sesuatu apapun, kemudian Dia member kekayaan (kecukupan) kepadamu.” [QS. Adh-Dhuha: 8]

Ada ulama yang mengartikan bahwa kekayaan dalam ayat tersebut adalah kekayaan hati, karena ayat ini termasuk ayat Makkiyah (diturunkan sebelum nabi hijrah ke Madinah). Dan pada saat itu, sudah dimaklumi bahwa nabi memiliki harta yang minim. [Fath Al-Baari 11/273]

Hal ini selaras dengan hadits-hadits nabi yang menjelaskan bahwa kekayaan sejati itu
letaknya di hati, yaitu sikap qana’ah atas apa yang diberikan-Nya, bukan terletak pada
kuantitas harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya kemewahan dunia, akan tetapi kekayaan hakiki adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati).” [HR. Bukhari: 6446; Muslim: 1051]

Abu Dzar radhiallalhu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah bertanya, “Wahai Abu Dzar apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itu adalah kekakayaan sebenarnya?”
Saya menjawab, “Iya, wahai rasulullah.” Beliau kembali bertanya, “Dan apakah engkau
beranggapan bahwa kefakiran itu adalah dengan sedikitnya harta?”
Diriku menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Beliau pun menyatakan, “Sesungguhnya
kekayaan itu adalah dengan kekayaan hati dan kefakiran itu adalah dengan kefakiran
hati.” [HR. An-Nasaai dalam al-Kubra: 11785; Ibnu Hibban: 685]

Apa yang dinyatakan di atas dapat kita temui dalam realita kehidupan sehari-hari. Betapa banyak mereka yang diberi kenikmatan duniawi yang melimpah ruah, dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan diri dan keturunannya selama berpuluh-puluh tahun, namun tetap tidak merasa cukup sehingga ketamakan telah merasuk ke dalam urat nadi mereka. Dalam kondisi demikian, bagaimana lagi dia bisa perhatian terhadap kualitas keagamaan yang dimiliki, bukankah waktunya dicurahkan untuk memperoleh tambahan dunia?

Sebaliknya, betapa banyak mereka yang tidak memiliki apa-apa dianugerahi sifat qana’ah sehingga merasa seolah-olah dirinyalah orang terkaya di dunia, tidak merendahkan diri di hadapan sesama makhluk atau menempuh jalan-jalan yang haram demi memperbanyak kuantitas harta yang ada. Rahasianya terletak di hati sebagaimana yang telah dijelaskan. Oleh karena pentingnya kekayaan hati ini, Umar radhilallahu ‘anhu pernah berpesan dalam salah satu khutbahnya,
ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻄَّﻤَﻊَ ﻓَﻘْﺮٌ، ﻭَﺃَﻥَّ ﺍﻟْﺈِﻳَﺎﺱَﻏِﻨًﻰ، ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﺃَﻳِﺲَ ﻣِﻤَّﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِﺍﺳْﺘَﻐْﻨَﻰ ﻋَﻨْﻬُﻢْ
“Tahukah kalian sesungguhnya ketamakan itulah kefakiran dan sesungguhnya tidak berangan-berangan panjang merupakan kekayaan. Barangsiapa yang tidak berangan-angan memiliki apa yang ada di tangan manusia, niscaya dirinya tidak butuh
kepada mereka.” [HR. Ibnu Al-Mubarak dalam Az-Zuhd: 631]

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu‘anhu pernah berwasiat kepada putranya, “Wahai putraku, jika dirimu hendak mencari kekayaan, carilah dia dengan qana’ah, karena qana’ah merupakan harta yang tidak akan lekang.” [Uyun Al-Akhbar : 3/207]

Abu Hazim Az-Zahid pernah ditanya,
ﻣَﺎ ﻣَﺎﻟُﻚَ؟
“Apa hartamu?”
Beliau menjawab,
ﻟِﻲ ﻣَﺎﻟَﺎﻥِ ﻟَﺎ ﺃَﺧْﺸَﻰ ﻣَﻌَﻬُﻤَﺎ ﺍﻟْﻔَﻘْﺮَ: ﺍﻟﺜِّﻘَﺔُﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ، ﻭَﺍﻟْﻴَﺄْﺱُ ﻣِﻤَّﺎ ﻓِﻲ ﺃَﻳْﺪِﻱ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ
“Saya memiliki dua harta dan dengan keduanya saya tidak takut miskin. Keduanya adalah ats- tsiqqatu billah (yakin kepada Allah atas rezeki yang dibagikan) dan
tidak mengharapkan harta yang dimiliki oleh orang lain. [Diriwayatkan Ad Dainuri dalamAl-Mujalasah (963); Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 3/231-232]
Sebagian ahli hikmah pernah ditanya, “Apakah kekayaan itu?”
Dia menjawab, “Minimnya angan-anganmu dan engkau ridha terhadap rezeki yang mencukupimu.”

Kekayaan hati, selalu bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah. Cara mensyukuri nikmat Allah dengan memaksimalkan usaha dalam mencari nafkah sehingga mampu memakmurkan pribadi dan keluarga serta menjadi rahmat bagi alam.
Baca Juga:  Korupsi Tak Perlu Diwarisi
Yuk bantu share. Semoga jadi amal jariyah dengan ikut berbagi ilmu bermanfaat ini. Aamiin.
Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Pin on Pinterest
Pinterest
Share on Tumblr
Tumblr
Share on LinkedIn
Linkedin

One Response

  1. author

    samsudin n7 months ago

    sangat inspiratif dan mencerahkan

    Reply

Leave a Reply