1090 E-Book GRATIS
DOWNLOAD

Saat Milenial Banyuwangi Melestarikan Tradisi Mocoan Lontar Yusuf

Pusatsemangat.com – “Saat Milenial Banyuwangi Melestarikan Tradisi Mocoan Lontar Yusuf”. Selamat menikmati info menarik dari kami. Jangan lewatkan untuk membaca informasi ini sampai selesai. Semoga bisa berikan inspirasi.

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Akbar Wiyana, pemuda asal Bakungan, Banyuwangi, Jawa Timur belajar membaca Lontar Yusuf di aula Warung Kemarang, Jumat (30/11/2018) dibantu Wiwin Indiarti (39), Sekretaris Aliansi Masyarakat Adat Nusantara PD Using Banyuwangi.

Selain Akbar, ada 25 anak muda dari seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi yang belajar membaca Lontar Yusuf yang selama ini hanya ditekuni oleh orang-orang yang berusia lanjut.

Bahkan, anak-anak muda tersebut membentuk Persatuan Mocoan Lontar Yusuf Milenial dan mereka berkumpul setiap 2 minggu sekali untuk membaca Lontar Yusuf.

“Tempatnya bergantian di hunian anggota persatuan mocoan lontar yusuf milenial sebab kami berasal dari desa-desa yang berbeda. Jadi sekalian silaturahmi,” kata Akbar Wiyana kepada Kompas.com disela-sela latihan membaca Lontar Yusuf.

Baca pula: Banyuwangi Siap Bidik Turis Timur Tengah

Persatuan itu terbentuk setelah adanya pembaruan naskah dan teks Lontar Yusuf oleh  Wiwin Indiarti.

Kepada Kompas.com, Wiwin menjelaskan Lontar Yusuf awalnya ditulis dalam pegon kuno sehingga sulit dibaca dan diterima oleh masyarakat khususnya anak-anak muda.

Selama ini naskah tersebut ditulis di atas kertas dan penyalinan naskah tersebut terus berlangsung hingga kini dalam bentuk tulisan tangan secara turun temurun.

Baca pula: Banyuwangi Kembali Dipromosikan ke London

Menurutnya, sudah cukup lama Lontar Yusuf dibacakan oleh kelompok mocoan Lontar Yusuf di Desa Kemiren di acara adat atau selamatan.

Bahkan ada dua kelompok arisan mocoan lontar di desa Kemiren yang eksis hingga hari ini namun anggotanya didominasi oleh orang-orang berusia lanjut dan jumlahnya setiap tahun semakin menurun dan ketika ini tak lebih dari 10 orang.

Buku Lontar Yusuf Banyuwangi yang dilengkapi teks pegon, transliterasi dan terjemahanKOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Buku Lontar Yusuf Banyuwangi yang dilengkapi teks pegon, transliterasi dan terjemahan

“Rata-rata anggota arisan mocoan lontar sudah diatas 55 tahun. Nah dengan anak muda yang belajar mocoan lontar Yusuf ini sebagai bentuk kaderisasi,” kata Wiwin.

Wanita yang mengajar di kampus UNIBA tersebut menjelaskan dirinya mengumpulkan naskah-naskah kuno Lontar Yusuf lalu diterbitkan dalam buku baru yang dilengkapi dengan transliterasi dan terjemahan sehingga gampang dipahami oleh masyarakat.

Naskah yang digunakan dalam buku tersebut disalin dari naskah tahun Jawa 1829 oleh seorang carik dari desa Cungking dan naskah itu punya Adi Purwadi, pelestari mocoan Lontar Yusuf di Desa Kemiren.

Pembacaan Lontar Yusuf, menurut Wiwin, ialah bagian spiritual dari masyarakat Using sehingga perlu ada aturan yang tak boleh dilanggar.

Selain itu pembacaan Lontar Yusuf dapat dilakukan dalam beberapa tembang atau lagu. Total dalam Lontar Yusuf terdapat 12 Pupuh, 593 bait dan 4.366 larik. Jenis pupuh dalam Lontar Yusuf ada empat yakni kasmaran, durmo, sinom dan pangkur.

Mocoan Lontar Yusuf secara lengkap lazimnya didendangkan di waktu malam selepas waktu shalat Isya hingga usai sebelum waktu shalat subuh.

Dalam acara mocoan ini, sekelompok pembaca Lontar Yusuf duduk bersila, berjajar setengah melingkar beralaskan tikar lalu secara bergiliran mendendangkan larik-larik puisi Yusuf. Naskah Lontar Yusuf yang dibaca diletakkan di atas bantal, dan secara bergantian dikelilingkan di antara para pengembang.

“Anak-anak milenial ini belajar tembang atau lagu ketika membacakan. Jadi kita membaca secara bergantian dan ada sesepuh mocoan Lontar Yusuf yang ikut untuk membenahi tembang bila ada yang salah,” jelas Wiwin.

Selain itu, setiap anggota perkumpulan pula menggunakan pakaian khas Using setiap kali mengikuti pertemuan.

Kelompok anak muda yang mempelajari naskah kuno Lontar Yusuf di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (30/11/2018).KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Kelompok anak muda yang mempelajari naskah kuno Lontar Yusuf di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (30/11/2018).

Lontar Yusuf ialah puisi naratif tentang kehidupan salah seorang Nabi Islam yang amat populer, Nabi Yusuf. Kisah ini merentangkan perjalanan hidup seorang utusan pilihan Tuhan dari usia 12 tahun. Kisah Yusuf, dimulai dari Mesir, melintasi laut dan selat hingga sampai ke ujung timur Jawa.

“Lontar Yusuf berisi tak sedikit pesan tentang kebaikan dan lontar ini ialah naskah kuno yang ketika ini masih hidup di masyarakat lokal terutama di wilayah pedesaan. Sedangkan naskah kuno lainnnya seperti kidung Sritanjung dan Babad Blambangan hampir tak pernah dibacakan lagi,” pungkas Wiwin.

Terimakasih telah membaca informasi dari kami tentang “Saat Milenial Banyuwangi Melestarikan Tradisi Mocoan Lontar Yusuf”. Informasi ini pernah diterbitkan di sini. Jangan sampai tak baca informasi menarik lainnya ya.

"Kita tidak pernah tahu bahwa ilmu dari link yang kita sebar mungkin dapat merubah hidup seseorang."

Leave a Reply