Sebab-Sebab Penyimpangan Terhadap Fitrah Manusia

Kita diciptakan oleh Allah dikaruniai dengan fitrah. Fitrah tersebut adalah menjadi hamba Allah maka fitrah yang dimaksud adalah agama Allah. Namun di dalam perjalanan hidup ada manusia yang menyimpang dari fitrahnya. Mereka meninggalkan agama Allah. Mereka tidak mau mengikuti perintah Allah dan menolak untuk beribadah dan tunduk kepada Allah.

Tidak bisa diingkari bahwa lingkungan memiliki banyak peran unruk mempengaruhi seseorang, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Di lingkungan ini bisa menjadikan seseorang semakin shalih atau membuat seseorang terjerumus kepada kesalahan. Penyelewangan dan penyimpangan terhadap fitrah ini tidak terelakkan jika lingkungannya tidak baik. Berikut ini ada beberapa penyebab penyimpangan fitrah yang terjadi hingga saat ini.

Syubhat: Perkara-perkara yang meragukan. Ini biasanya timbul akibat percampuradukan antara yang hak dengan yang bathil. Hal ini membuat ambigu dan kerancuan yang tidak disadari oleh masyarakat. Syubhat ini membuat sesuatu yang salah menjadi sebuah kebenaran bagi mereka. Orang yang menebarkan syubhat ini bukanlah orang sembarangan. Tingkat pendidikannya tinggi namun dengan kepintarannya ini mereka mampu memutar balikkan fakta.

Di lingkungan ini bisa menjadikan seseorang semakin shalih atau membuat seseorang terjerumus kepada kesalahan. Penyelewangan dan penyimpangan terhadap fitrah ini tidak terelakkan jika lingkungannya tidak baik. Berikut ini ada beberapa penyebab penyimpangan fitrah

Permasalahan dakwah membawakan agama yang lurus akan terus berlangsung. Begitupun mereka yang ingin menghancurkan umat akan terus berjuang menebarkan kesesatannya di lingkungan masyarakat. Mereka bawakan Alquran bahwa di dalam alquran tidak ada ayat yang mengharamkan hubungan pernikahan sesama jenis. Memang secara langsung tidak ada ayat yang melarang namun yang ada ialah ayat tentang dibinasakannya kaum tersebut dengan bencana yang sangat dahsyat. Bukankah ini larangan secara tidak langsung dari Allah? Atau maukah dibinasakan seperti mereka? Ingat… yang dibinasakan bukan hanya pelakunya saja tetapi seluruh mahluk yang tidak berdosa pun akan terkena azabnya. Apakah masih tidak mau peduli? Media sosialis begitu pandainya mengemas perbuatan yang dihinakan ini menjadi sesuatu yang indah sehingga harus dibela.

Baca Juga:  Amalan-amalan di Bulan Rajab

Masih ingatkah kejadian dahulu ketika seorang da’i yang sedang tinggi peminatnya tiba-tiba turun drastis jamaahnya? Padahal beliau mengerjakan suatu syari’at bukan sebuah maksiat. Beliau mengerjakan sesuatu yang dihalalkan. Ya, poligami. Musuh Islam benci jika semakin banyak orang shaleh tinggal di dunia ini. Mereka benci jika banyak orang yang sadar dan kembali pada fitrahnya. Sehingga mereka bermain lewat perasaan wanita mengingat banyak jamaah beliau dari kaum wanita. Aktivis emansipasi wanita lantang merendahkan fitrahnya sebagai wanita. “Daripada dipoligami suaminya mending melacur sekalian”, itu salah satu ungkapan mereka. Naudzubillah. Media sosialis berhasil membungkus sebuah kebenaran dan mulia menjadi sesuatu yang kotor dan hina di mata masyarakat. Namun beliau membuktikan bahwa syariat akan selalu menang dari kebatilan meskipun kebatilan itu kuat dan banyak pembantunya.

Wanita diwajibkan menutup aurat sehingga banyak aktivis muslim mengkampanyekan agar para wanita menutup auratnya dengan benar sesuai syariat. Sampai-sampai mereka memberikan jilbab gratis. Ujian bagi mereka adalah banyak yang mendesain jilbob dan memasarkannya sebagai hijab syari padahal sangat jauh dari syariat. Mereka kembangkan jilbab sesat berkerudung berbelit juga pendek tidak menutup dada dan bawahannya ketat. Orang awam hanya mengerti bahwa itulah modis karena yang diikutinya adalah para artis bukan ustadzah shalihah yang menutup aurat dengan sempurna.

Wanita ingin disamakan derajatnya dan haknya dengan laki-laki. Padahal itu sudah dilakukan oleh agama yang mulia ini. Ingin meniti karir seperti laki-laki yang kerja di kantor berangkat pagi pulang malam. Keluarga ditinggalkan. Atau menyerahkan anak-anak kepada pembantu. Atau membiarkannya anak-anaknya tanpa ada bimbingan. Memang itu rencana propaganda kesetaraan gender. Menginginkan para ibu keluar dari rumahnya. Mereka menginginkan rumah tangga menjadi berantakan. Anak-anak ditelantarkan, kewajiban rumah tangga diabaikan. Setelah itu mereka dengan mudah menghancurkan generasi kita.

Baca Juga:  Peristiwa-peristiwa Penting di Hari Asyura

Baca: Ibu Rumah Tangga Berpenghasilan 3-5 Juta tanpa keluar Rumah

Tuduhan keji pun dilontarkan terhadap islam. Dibantu diblowup oleh media sosialis seakan peristiwa itu besar. Seolah semua orang islam itu sama, padahal pelakunya bukanlah orang yang paham tentang islam secara keseluruhan. Ini membuat masyarakat islmanya sendiri membenci islam. Ini karena kedangkalan ilmu dan kehebatan musuh islam yang pandai memutar balikkan otak.

Syubhat dibuat untuk menyamarkan bahwa kebenaran itu tampak sebagai keburukan dan menyamar keburukan itu tampak sebagai suatu kebenaran. Mereka campuradukkan yang hak dengan yang bathil sehingga samar terlihat apakah itu kebenaran atau kebaikan.

Syahwat: mengikuti kecenderungan jiwa terhadap sesuatu dan Mengikuti hawa nafsu mengakibatkan penyimpangan itu diperjuangkan agar menjadi legal. Para pengikut hawa nafsu menginginkan syahwatnya itu diakui oleh masyarakat sebagai kebenaran. Mereka ingin menebarkan kesesatan fitrahnya. Mereka tidak akan berkembang biak tanpa menebarkan virus kebodohan mereka. Tidak peduli apapun caranya, halal atau tidak mereka lakukan hanya demi keberlangsungan dan kebebasannya mengikuti nafsu syahwatnya.

Mengikuti prasangka pun bisa menjadi penyimpangan. Ketika akan memvonis sesuatu tidak boleh langsung dituduh sesuai prasangka. Bicaralah dengan fakta yang bida dibuktikan dengan data. Biasakan berdialog dengan yang bersangkutan, bukan berprasangka yang tidak-tidak sehingga orang lain menjadi korban prasangkanya.

Tertipu akan merasa paling lebih merupakan penyimpangan dari fitrahnya sebagai hamba Allah. Kita yakin bahwa Allah maha segalanya dan tidak bisa disamakan seperti mahluk. Bahkan dikisahkan Firaun di puncak kekuasaannya berani mengakui dirinya sebagai tuhan lalu Allah dengan mudah menghinakannya dengan ditenggelamkannya di dalam laut yang terbelah.

Itulah beberapa penyimpangan yang sering terjadi di saat ini sebagai bahan renungan kita yang hidup di zaman ini. Terimakasih.

Baca Juga:  Ingin Punya Banyak Teman di Sekitar Kita, Ini Tipsnya
Yuk bantu share. Semoga jadi amal jariyah dengan ikut berbagi ilmu bermanfaat ini. Aamiin.
Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Pin on Pinterest
Pinterest
Share on Tumblr
Tumblr
Share on LinkedIn
Linkedin