Sebait Rindu, Kisah Tak Berujung

Hujan setiap hari, setiap sore membuat hening jalan raya yang biasanya padat merayap dan ramai lalu lalang pejalan kaki di terotoar yang baru saja dirapikan oleh badan tata ruang kota ikut hilang, menepi, berkumpul di halte-halte.

Aku dengan jas hujan menerobos derasnya berkendara motor yang baru saja lunas. Aku ingin segera bertemu dengannya. Dia yang mampu hilangkan lelah ini walau hanya melihatnya.

Lampu merah menghentikan para pengendara, polisi penjaga jalan bersemayam dalam posnya. Tidak ada kemacetan di jalan raya maka longgarlah tugasnya.

Lampu hijau menyala, klakson-klakson diteriakkan seperti peluit ketika akan dimulai balapan.

Semua pengendara melaju menuju tampat yang dituju. Aku sendiri ingin menuju segera sampai ke tempatnya yang aku rindu.

seutas rindu

Sampailah aku di tempat itu, sepertinya dia sudah menungguku. Aku parkirkan motorku di depan rumah itu. Aku buka pintu gerbang rumah dan tidak melupakan untuk mengucapkan salam sebagai adab seorang yang berislam.

Tiada jawaban yang aku dengar dari dalam dan aku hanya menunggu di serambi rumahnya. Lalu aku mengirimkan pesan pendek bahwa aku telah ada di rumahnya. Dia membalas, akan segera datang menemuiku beberapa menit kemudian.

Aku hanya bisa diam menunggunya datang membawakan seutas senyum yang biasanya dia hadiahkan padaku.

Bersambung…

Yuk bantu share. Semoga jadi amal jariyah dengan ikut berbagi ilmu bermanfaat ini. Aamiin.
Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Pin on Pinterest
Pinterest
Share on Tumblr
Tumblr
Share on LinkedIn
Linkedin
Baca Juga:  Inspirasi dari Seorang Anak yang Shaleh
Rate this article!